Posted by ۩۞۩ஜ Rihlah Jiwa ۩۞۩ஜ on Sunday, 11 January 2015
Bukan Salah Sambung
Ku sedang terbuai mimpi ketika hpku berdering. Aku melihatnya. Nomor baru.
"Ah, ganggu orang tidur aja," gerutuku langsung menolak panggilan itu.
Belum juga kepalaku terjatuh ke bantal, benda persegi panjang itu bernyanyi lagi. Masih nomor yang sama. Akhirnya ku menerima panggilan itu.
Terdengar suara wanita di sana.
"Siapa ya? Ada perlu apa?" tanyaku.
"Di mana Judhi?" tanya wanita di seberang telepon.
Judhi? Duh salah sambung nih kayanya.
"Mbak salah sambung kayanya deh."
"Di mana Judhi?!!" tanya wanita itu dengan nada meninggi.
"Mbak salah sam...."
"Jangan bohong, kamu. Cepet kasihkan hpnya ke Judhi."
Makin kacau aja nih orang. Jam dua pagi. Aku memutuskan panggilan tak penting itu.
Tapi tak lama kemudian nomor baru itu memanggil lagi.
Ni orang bener-bener ngga tau sopan santun, pikirku kesal.
"Apa lagi, Mbak? saya tidak kenal dengan Judhi," sambarku seketika.
Terdengar isakan.
"Tolong aku mau ngomong sama Judhi...."
"Sudah saya bilang saya ngga kenal sama, Judhi, saya juga lagi sendirian di kamar."
"Jangan bohong! Ini nomor hp suamiku, kamu pasti selingkuhan suamiku kan?!"
Makin ngawur aja nih orang.
"Ini nomor hp saya, Mbak."
"Tolong, berikan hpnya ke suamiku." pinta wanita itu dengan isaknya.
"Aduh, Mbak. Tapi saya bener-bener ga kenal ma suami mbak, emang suami mbak di mana?" tanyaku mulai simpati.
"Kerja di Magelang," jawabnya dengan suara parau.
"Lha saya sendiri di Semarang kok mana bisa saya sama suami mbak sekarang."
"Bohong...!"
Hadehh.
"Mbak sendiri orang mana?" tanyaku lagi.
"Orang Sekayu, aku mohon aku ingin bicara sama suamiku, pasti dia di sampingmu kan?"
Sekayu? It's my hometown.
"Namamu siapa?"
"Ana."
Ana? oww, I see her.
"Owalah, Ana tho. Iki aku Prapty."
Tak kusangka dia Ana, teman SDku.
"Prapty siapa?"
Ah, dia melupakanku.
"Temen SDmu, Na. Masa lupa sih, cah Sekayu Wetan."
"Aku ngga punya temen namanya Prapty."
Dasar kau.
"Kanah tau ngga? Rumahku deket ma dia?"
"Jangan muter-muter deh, dasar wanita pengganggu!"
Ampun deh ni cewek.
"Entik ingat ngga?" tanyaku lagi mencoba menyadarkan Ana.
"Entik?"
Hening sejenak.
"Ini bener Entik?? Kok nomor Kang Judhi bisa ada di kamu?"
"Ini nomerku, Na. Coba deh kamu smsin no hp Judhi ke sini."
Panggilan terputus. Sesaat kemudian pesan masuk. Aku melihat nomor yang dikirim Ana, nomor Judhi suaminya. Nomornya jelas beda dengan nomor hpku, tapi kenapa panggilan Ana masuk ke aku.
Aku menghubungi nomor itu.
Dan terdengarlah sebuah suara.
"Panggilan Anda akan segera di alihkan."
Ah, ternyata panggilan ke nomor Judhi di alihkan ke nomorku.
Aku menghubungi Ana dan menjelaskan analisaku.
"Tapi kenapa di alihkan ke nomor kamu?" tanya Ana masih curiga.
Aku sendiri juga bingung, aku tau sih Judhi tu yang mana, tapi hanya sekedar tau saja, walau satu desa tapi belum pernah bertemu sapa.
"Nggg, aku juga ngga tau, tapi bener deh, aku ngga ada apa-apa ma Judhi."
"Ehm, Kang Judhi emang pake hp temennya sih, namanya, Mukhlis, anak Mejing. (nama karangan, gue lupa namanya, hihi)."
"Mukhlis, aku kenal ma dia, An. Mungkin Mukhlis yang mengalihkan panggilan ke nomorku."
"Iya, kali ya."
"Coba kamu sms lagi aja ke Judhi, jangan buruk sangka dulu." Nasihatku.
"Iya, makasih ya, Tik. Maaf malam-malam ganggu."
Akhirnya the case is over.
Pukul tiga pagi. OMG.
***
Paginya Ana telepon lagi tapi kali ini memang bener telepon ke nomor punyaku.
Akhirnya Judhi telepon Ana juga. Dan permasalahan clear. Lega diriku. Kamipun lanjut ngobrol cerita kehidupan masing-masing.
Sore hari, ada panggilan masuk. Ah, nomor baru lagi. Dengan malas ku menerimanya.
Dari suaranya sih cowok.
"Hai, Prapty."
"Siapa ya?"
"Ini aku Mukhlis."
Aww, si biang kerok nih.
Dia meminta maaf, katanya ngga sengaja meletakkan nomorku di pengalihan panggilan. Aku mengiyakan.
"Eh, gimana kabar hubunganmu sama Mbak Mun?"
Aku ingat Mukhlis dulu sedang PDKT dengan Mbak Mun, teman kerjaku dulu.
"Dia mau nikah, Prap. Sama tetangganya."
Poor Mukhlis.
"Ya, udah cari yang lain aja," nasihatku menghiburnya.
"Kalau kamu mau ngga jadi cewekku?" tembaknya langsung.
Gila ni cowok.
"Aku?"
"Iya, kamu kapan pulang Magelang. Kita ketemuan yuk?"
"Ehm, tanggal 18 Januari kamu ke rumah aku aja."
"Ke rumah kamu?? Aku belum siap, ketemuan di luar aja."
"Gapapa, ortuku baik kok."
"Oke, deh."
"Jangan lupa bawa kado ya?" pintaku.
"Kamu ulang tahun ya?"
"Ngga sih, tapi tanggal 18 AKU MAU NIKAH."
"Nikah??!!!"
"Iya."
Tut... Tut... Tut...
"Ga sopan nih asal matiin aja." umpatku kesal.