Posted by ۩۞۩ஜ Rihlah Jiwa ۩۞۩ஜ on Sunday, 4 January 2015
Liburan usai, besok kembali aktivitas kerja.
Liburan yang cukup menyesakkan, Pak Tuo dipanggil sama Allah, rasanya tak percaya. Kamis kemarin pulang Magelang, Ahad balik Semarang, Selasa dapat kabar kalau Pak Tuo meninggal. Saat itu jam setengah dua siang. Hujan deras. Suami dihubungi tak bisa. Ingin rasa segera terbang ke Magelang. Akhirnya jam setengah 6 baru berangkat, simbok terakhir telpon meminta kerelaanku untuk memakamkan pak tuo tanpa menungguku, dengan berat hati aku mengiyakan.
Perjalanan lancar, hujan sudah benar-benar reda. Memasuki daerah Ngablak kabut mulai turun, semakin lama semakin tebal. Dingin semakin menusuk. Kekhawatiran menelusup. Tiba-tiba motor oleng, suami menepikan motor ke pinggir jalan. Ban bocor. Sudah hampir jam tujuh. Abi memutuskan untuk mencari bengkel, aku dan anakku menunggu di pinggir jalan. Pak Lik menghubungiku, setelah ku menceritakan keadaanku, akhirnya akan ada yang menjemput. Aku masih menunggu abi yang belum juga kembali. Teleponku tidak diangkat, kukirimkan pesan untuk kembali karena akan ada mobil yang menjemput. Lima belas menit kemudian abi datang. Ia tidak menemukan bengkel. Kemudian datang seseorang menanyai kami, kemudian menawarkan bantuan untuk mencarikan bengkel di dekat situ, sesaat kembali lagi, tidak ada orang di bengkel. Akhirnya orang itu pergi. Dan kembali lagi dengan seorang anak kecil, mungkin anaknya, kemudian mengajak kami ke rumahnya, dan akan membantu mengganti ban motor abi. Abi mengikuti orang tadi, aku memutuskan untuk tinggal di tempat, karena banyaknya barang bawaan. Tak lama kemudian mobil jemputan datang, karena motor belum jadi, kami pulang dengan mobil, sedang motornya akan dibawa sama tetanggaku yang ikut menjemput.
Sampai rumah ku segera menghambur ke kamar. Ternyata pak tuo belum dimakamkan. Liang kubur yang sudah digali longsor, sehingga harus menggali liang baru.
Bu Lik bilang, "Mungkin, memang pak tuo maunya nunggu kamu, Tik."
Akhirnya bisa mengantar pak tuo ke peristirahatan akhir.
Cerita simbok tadi pengurusan jenazah pak tuo sedikit terlambat karena adikku yang berkali-kali pingsan. Yah, ku paham, pasti dia syok. Setiap bulan ia pulang ke rumah pasti selalu ikut merawat pak tuo, dari menyuapi makan, memandikan, sampai menyukur jenggot pak tuo. Aku mengakui, walau ia lebih muda dariku, tapi kadang kedewasaannya melebihiku. Dan sabtu lalu Nur, adikku pulang liburan semester. Selama hampir empat hari, seperti biasa, ia dengan telatennya merawat pak tuo. Dan hari Slasa tengah hari ia ikut memandikan pak tuo bersama simbok. Setelah mandi, ia menawari pak tuo makan, tapi beliau menolak. Hingga setengah jam kemudian, pak tuo yang dikira tidur karena nyaman setelah mandi, ternyata sudah tak bernafas lagi.
Simbok juga tak menyangka pak tuo akan pergi secepat itu, walau sudah setahun lebih pak tuo sakit.
Ya Allah.... Berikanlah tempat terbaik untuk pak tuo.